Skip to main content

CERPEN: Sebuah Pengalaman Tak Terduga.

 

Ilustrasi 


Selalu Dukung Admin ya biar admin lebih semangat

LINK SAWER

https://saweria.co/beesilebah11

Nama ku Faisal, seorang karyawan swasta berusia 26 tahun. Aku ingin menceritakan pengalaman pribadiku saat harus berobat ke rumah sakit karena menderita wasir.

Hari itu, aku berjalan dengan tertatih-tatih menahan sakit. Aku tegaskan, aku bukan seorang gay; aku terkena wasir murni karena sedang sial saja. Sebenarnya aku merasa sangat malu untuk pergi ke rumah sakit dengan kondisi seperti ini. Namun, karena rasa tidak nyaman yang sudah tidak tertahankan, akhirnya aku membuang jauh-jauh rasa malu itu demi kesembuhan.

Aku berjalan dengan langkah yang aneh. Aku sadar beberapa pasang mata menatapku dengan heran, tapi aku tidak peduli. Saat namaku dipanggil, aku pun masuk ke dalam ruangan. Sial, aku malu setengah mati karena ternyata dokternya adalah seorang wanita. Rasanya berat sekali harus menjelaskan penyakitku padanya.

Untungnya, dokter itu mengatakan bahwa kondisiku perlu pemeriksaan lebih dalam. Ia menyarankan agar aku pergi ke ruang dokter spesialis. Aku mengiyakan saja dan segera pergi dengan perasaan lega karena tidak harus menunjukkan bagian belakangku pada dokter wanita itu.

Perjalanan menuju ruangan spesialis benar-benar terasa seperti siksaan. Begitu sampai, suster pengantar pergi dan aku masuk sendirian.

"Permisi, dok," ucapku.

Semua mata langsung tertuju padaku. Ternyata di dalam ada dua orang lain selain sang dokter. Dari penampilannya, sepertinya mereka adalah dokter Coas.

"Mari, Kak," seru sang dokter. Dua Coas itu kini berdiri di belakang dokter, siap menyimak penjelasan. Jujur, aku malu penyakitku didengar banyak orang, tapi aku mencoba bertahan. Menurutku, ini masih lebih baik daripada harus telanjang di depan dokter wanita tadi.

"Oh, wasir ya," seru dokter yang kuketahui bernama Dokter Hendra.

"Iya, dok," jawabku singkat.

"Kalau boleh tahu, Faisal sering berhubungan seksual?"

"Maksudnya, dokter?" aku bingung.

"Maaf bukan maksud menyinggung. Kau tahu, banyak kasus yang sama seperti Faisal, dan kebanyakan dari mereka karena bagian belakangnya sering dimasuki," jelasnya.

"Ah, nggak pernah dok, saya normal. Kalau pun berhubungan, saya sama cewek, dok," tegasku.

"Oh begitu. Gimana kalau kita cek?" tawarnya.

"Bo... boleh kok, dok."

Aku pun diminta berbaring dan melepaskan seluruh celanaku. Kini aku setengah bugil dengan kondisi yang membuatku canggung.

"Nah, Dek Faisal baring dulu ya. Selanjutnya kakinya diangkat biar lubangnya bisa terlihat," pinta dokter. Aku menuruti dengan patuh meski rasa malu dan sakit bercampur aduk. Dokter memakai sarung tangan, lalu melumuri tangannya dengan gel.

"Ditahan ya, ini sedikit sakit dan tidak enak," ujar dokter menenangkan. Dua dokter Coas di belakangnya memperhatikan dengan seksama.

Aku merasakan sentuhan jari dokter di lubang pantatku. Ia mengoleskan pelicin agar aku tidak terlalu kesakitan.

"Wah iya, wasir ternyata. Ini ada benjolan kecil. Tahan ya, aku coba cek, takutnya di dalam masih ada benjolan lain." Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

"Aaaaakkkkhhhh!" teriakku saat jarinya masuk lebih dalam.

"Tahan ya," ia terus meraba-raba di dalam. Rasa perih wasir membuatku tersiksa.

"Hmmm... akkhhh, sakit dok," rintihku saat ia menggerakkan jarinya maju-mundur.

"Hmmm... akhhh," aku mendesah kesakitan saat jarinya masuk lebih dalam lagi. "Ahhhh!" Aku kaget saat jarinya mengenai sesuatu di bagian dalam.

"Apa itu dokter?" tanyaku.

"Apa yang ini?" sahutnya sambil kembali menyentuh bagian itu. Jujur, rasanya sangat aneh. Entah kenapa rasa sakit itu mulai bercampur dengan sensasi nyaman yang tidak biasa.

"Ahhh..." aku kembali mendesah saat dokter terus memaju-mundurkan jarinya. Aku melirik ke bawah dan menyadari kontol ku telah menegang (nganceng). Dengan cepat aku mencoba menutupinya dengan tangan.

"Tidak apa-apa Kak, itu reaksi biasa kok," seru salah satu dokter Coas menenangkanku. Ia menarik tanganku agar aku tetap pada posisi mengangkat kaki.

"Ahhh... stsss... akhhhh," desahku mulai terdengar berbeda; kali ini terasa enak.

"Nah Alex, coba kamu periksa pasien," perintah Dokter Hendra.

Dokter Alex pun menggantikan posisi Dokter Hendra. Ia memakai sarung tangan, mengoleskan gel, dan memasukkan jarinya ke dalam lubangku.

"Akhhh!" teriakku saat merasakan sensasi yang lebih padat. Rasanya aneh karena ia sepertinya hanya berfokus pada titik sensitifku.

"Ahhhh... stsss... hooo... ahhhh," desahku yang mulai benar-benar menikmati. Precum ku tumpah banyak dari ujung kontol.

"Budi, tolong bersihkan precum-nya Faisal," seru Dokter Hendra. Dokter Budi mengangguk. Namun, bukannya mengelap, ia malah membasahi tangannya dengan cairan itu dan mulai mengocok kontol ku.

"Apa yang... ahhhh... stssss..." kalimatku terputus oleh desahan.

"Gimana Dek Faisal? Enak kan?" tanya Dokter Hendra.

"Ahhh... ahhh... stsss... argghh... i... iyaaa... eeennakkk," ucapku terbata-bata.

Dokter Hendra berdiri di sampingku, membantu memegangi kakiku agar tetap mengangkang lebar. Aku melirik ke samping dan melihat celana Dokter Hendra yang sudah sangat menonjol. Aku tahu dia pun sedang terangsang.

"Nah Alex, gantian biar Budi yang masukin," ucap Dokter Hendra.

Mereka bertukar posisi lagi. Kali ini aku merasakan sesuatu yang mulai masuk.

"Arghhhh sakit... stsss... akhhhh!" teriakku sejadi-jadinya. Rasanya jauh lebih besar dari sekadar jari. Aku mendongak ke arah Budi dan betapa kagetnya aku melihat yang masuk ternyata adalah kontol Budi.

"Ahhhh," desah Budi saat berhasil masuk.

"Apa yang kalian lakukan?!" seruku merasa terhina sekaligus kaget.

"Tahan saja, tidak lama kok," ucap Dokter Hendra tenang.

Aku berusaha menghindar, tapi Dokter Hendra menahanku dengan kuat. Alex pun mengambil tindakan; ia mulai mengulum milikku dengan mulutnya.

"Bangsat... apa yang... ahhhhh... stsss... ahhhh," seruku terbata-bata. Rasa geli dan nikmat membuatku tak berdaya.

"Akhhh... ahhhh... sttt... hooo," desah Budi yang terus memacu di belakang. Rasanya sakit karena wasirku, tapi tekanan Budi yang selalu mengenai titik sensitif ditambah hisapan Alex membuatku malah merasa sangat keenakan.

"Stss... ahhhh... ahhh..." Rasa sakit itu kini sepenuhnya berubah menjadi nikmat yang luar biasa.

Aku melirik ke samping dan melihat milik Dokter Hendra yang panjang sudah berdiri tegak. Ia mendekatkan miliknya ke mulutku. Seperti terhipnotis oleh kenikmatan, aku malah membuka mulut dan mulai menghisapnya.

"Ahhhhkkk... enak," desah Dokter Hendra.

"Aku mau keluar!" seru Dokter Budi.

CROTT... CROTT... CROTTT... CROTTTT...

Tembakan panas menyembur di dalam pantatku.

"Nah Alex, sekarang kamu," seru Dokter Hendra yang miliknya sedang kuhisap.

Dokter alex pun mengganti posisi, kini dia sudah lepaskan celananya, kontolnya berdiri kokoh berurat, dengan diameter yang besar. Ujung kepalanya merah keunguan. 

Kini dia mulai mengambil posisi dan perlahan mulai memasukan kontolnya ke dalam lubang pantat ku. 

"Akhhhh sakittttt" Teriak ku. Sepertinya ruangan ini penuh dengan teriakkan ku yang merintih kesakitan. Sangat aneh bahwa tidak ada yang mendengar. Sepertinya ruangan ini benar-benar di rancangan kedap suara. 

Alex terus memompa, menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Goyangannya lebih bar bar dari pada budi yang bermain sedikit lambat. Alex bermain bar bar. Memaksakan masuk kontolnya. Menariknya keluar dengan satu tarikan dan mendorongnya kuat dengan satu dorongan. 

"Akhhh stssss enakkk akhhhh bangsat enak dok" Racau Alex. Bahkan sakin nikmatnya dia mengigit bibir bawahnya dengan mata yang memutih karena menatap keatas. 

"Arggg saa sakittt" Teriak ku. Karena emang sesakit itu. Bahkan air mata ku menetes keluar karena kesakitan. Seperti iblis iblis ini sudah tidak memperdulikan aku. Bahkan aku susah berbicara karena harus mengulum kontol dokter hendra. 

Budi bangkit mulai memegang kontol ku. Mengocoknya pelan sebelum akhirnya dia mengulum kontol ku. 

"Akhhh" Desah ku lolos saat rasa nikmat itu kembali. Rasa sakit dan geli 

"Akhhh... stsss... ahhhhh... hoooo," desahku tak karuan. Tubuhku seolah sudah beradaptasi dengan situasi ini. Dokter Hendra kini berdiri di atasku. Sumpah, entah kenapa rasanya sangat memuaskan.

"Aku nggak tahan lagi, aku mau keluar!" teriakku.

"Aku juga," sahut Dokter Alex.

"Kita sama-sama!" seru Dokter Hendra.

Hisapanku makin binal pada Dokter Hendra, begitupun mereka terhadapku. Alex bergerak semakin brutal, hingga rasanya perih namun enak karena menyentuh bagian terdalam.

"Ahhh... akkuu... keluar!" seruku.

"Aku juga!" seru Dokter Hendra.

"Ahhh... akuuu... ahhh!" seru Alex.

CROTTT... CROTTTT... CRROOOOTTTT...

Sperma kami muncrat bersamaan. Milikku menyembur ke dalam mulut Dokter budi, sementara miliknya masuk ke dalam mulutku. Di saat yang sama, Alex kembali memenuhi bagian belakangku dengan cairannya. Rasanya aneh menelan cairan itu; asin dan amis. Tapi aku berusaha menelannya karena kulihat dokter pun menelan milikku.

Mereka bertiga kemudian duduk dengan pakaian berantakan. Atasan masih mengenakan jas kedokteran, namun bagian bawah telanjang dan lengket. Aku pun sama, masih mengenakan kaos tapi sangat lengket setelah aksi tadi.

Tiba-tiba, rasa sakitku kembali muncul dan bahkan lebih hebat. Pantatku terasa nyeri luar biasa. Aku mengerang kesakitan. Mereka panik saat melirik ke bawah; darah mengalir keluar bercampur dengan sisa cairan tadi.

"Sepertinya ada benjolan yang pecah," ucap dokter dengan nada serius.

"Alex, kunci pintu! Ambil perlengkapan! Budi, siapkan tempat!" perintahnya tegas.

Dengan kondisi masih setengah telanjang, mereka segera mengambil tindakan medis untuk mengoperasiku. Aku yang sudah lemas karena kesakitan hanya bisa pasrah.

Untunglah operasi itu berhasil. Kini sudah dua minggu sejak aku keluar dari rumah sakit. Rasanya masih ngeri karena masih dalam masa pemulihan. Mengenai kejadian itu, mungkin itu adalah momen pertamaku menjadi gay—atau mungkin tidak sepenuhnya. Aku masih nafsu melihat wanita, tapi sepertinya sekarang aku menjadi verse. Jika dengan pria, aku ketagihan menjadi pihak yang "di bawah", sedangkan untuk pacarku, aku tetap pria yang menyukai wanita.


<TAMAT>

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ustadz Kampung: Chapter 8. Rumah Kosong

Malam ini, bulan sabit tipis menggantung di langit, cahayanya nyaris tak menembus pekatnya kegelapan di sudut kampung. Udara dingin mulai merasuk, menusuk tulang. Saya memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian, mencari udara segar sekaligus mencoba menenangkan pikiran yang terus-menerus digerayangi bayangan orang-orang dan dosa manis yang kami bagi. Rasanya seperti ada kekosongan yang terus menuntut untuk diisi, sebuah gairah yang tak pernah padam. Dildo yang biasa saya pakai sengaja saya tinggalkan di rumah tentu saja di tempat yang aman, karena malam ini, entah kenapa tidak ingin mengenakannya.  Saat saya berjalan menyusuri jalan setapak yang sepi, sebuah bayangan muncul dari balik pohon mangga tua. Seorang pria melangkah keluar dari kegelapan. Itu Ian. Saya mengenalnya. Ian adalah salah satu pemuda kampung yang jarang terlihat di masjid, tapi sering terlihat nongkrong di warung kopi. Umurnya sekitar 25 tahun, lebih muda dari saya, dengan tubuh yang kurus namun atletis, rambutnya...

Ustadz Kampung : Chapter 16. Penjaga warung

  Selalu Dukung Admin ya biar admin lebih semangat LINK SAWER https://saweria.co/beesilebah11 Setelah sesi curhat dan ngentot yang memuaskan di rumah Ustadz Firman, saya merasa sedikit lebih ringan. Namun, rasa ketagihan itu tidak lantas hilang. Sebaliknya, seperti api yang baru saja diberi bahan bakar, ia semakin membara. Bayangan kontol Ustadz Firman yang kokoh dan gairah yang kami bagi terus terlintas di benakku, membuatku terus diliputi nafsu yang tak terpuaskan. Malam berikutnya, setelah menunaikan Salat Isya, saya berjalan kembali melewati warung tempat saya bertemu dengan geng Ian. Malam itu, warung itu tidak seramai malam sebelumnya. Hanya ada seorang pemuda yang sedang duduk di meja paling ujung biasa untuk membayar, dia terlihat sedang memainkan handphonenya. Saya mengenalnya. Dia adalah pemilik warung, namanya Hendra. Usianya sekitar 25 tahun, tubuhnya tegap dan kulitnya bersih . Rambutnya dicukur rapi, dan dia punya sorot mata yang hangat namun juga ada kesan na...

Ustadz Kampung: Chapter 7. Ustadz firman

Sudah beberapa hari sejak kejadian mendebarkan di rumah Ustadz Firman. Sejak itu, saya dan Ustadz Firman jarang sekali berinteraksi. Dia masih terlihat menghindar, namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada semacam kerinduan yang samar di matanya setiap kali kami berpapasan, sebuah tarikan tak terlihat yang kami berdua rasakan. Saya tahu, ia pasti kepikiran tentang kejadian itu karena hampir ketahuan membuat hasrat kita tertunda, itu kenikmatan yang terlarang namun begitu memabukkan baginya. Saya juga merasakan hal yang sama. Setiap kali istri saya pergi berjualan atau tidur, bayangan tubuh Ustadz Firman, desahannya, dan sentuhannya kembali menghantui terutama kontolnya.  Pagi itu, istri saya pamit untuk pergi ke pasar. Dia bilang akan pulang menjelang sore. Artinya, rumah akan kosong. Saya memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan membaca kitab di ruang tamu, mencoba menenangkan diri. Namun, pikiran saya terus-menerus melayang pada Ustadz Firman. Tidak lama setelah istri saya ...