Selalu Dukung Admin ya biar admin lebih semangat
LINK SAWER
https://saweria.co/beesilebah11
Akh akh akh desah ku di dalam kamar. Udah seminggu sejak aku bersetubuh dengan Hendra. Setelah itu tidak ada kejadian lagi. Rasanya pikiran ku menjadi kacau bukan karena rasa bersalah. Malah sebaliknya, hasrat ku semakin menjadi. Aku ketagihan. Bayangan-bayangan aku dientot membuat ku selalu nganceng. Seperti saat ini.
Aku terus nganceng, untuk saja saat ini istri ku tidak ada di rumah saat ini.
"Stsss arggghhhh anjingggg fuckkkk" Desah ku tidak tertahan. Tangan ku saat ini sedang mengocok kontol ku. Tangan ku, aku gunakan untuk memainkan dildo yang baru saja kebeli. Dildo berbentuk kontol yang super jumboitu keluar masuk Dengan nikmatnya.
Jujur saja, awalnya aku deg degkan saat ingin membeli mainan ini. Tapi hasrat ku selalu saja mendominasi. Karena setiap kali coli rasanya kurang puas kalau tidak ada yang mampu mengisi pantat ku. Alhasil aku memutuskan untuk memberi barang haram ini.
"Stttsss akhhh enakkkk terusss akhhh" Desah ku semakin menjadi.
Mata ku memandang ke atas dengan lidah menjulur, saking keenakan. Gak sia sia aku membeli barang ini.
"Stttssss akhhhh, te terus firr, terusss pak, terus ian" Desah ku, membayangkan diriku yang sedang di entot oleh mereka. Membayangkan diri ku yang mengulum kontolnya membuat ku semakin bergairah. Kontol ku benar-benar nganceng se ngancengnya hingga kontol ku basah hanya dengan precum yang terus tumpah.
"Akhhh stsss akhhh" Desah ku yang semakin menjadi saat sekarang aku menempelkan dildonya di lantai dan berdiri dengan posisi jongkok. Menaik turunkan pinggul ku membuat dildonya masuk semakin dalam.
"Akhhh fuckkk" Saat dildonya masuk semakin dalam. Tangan ku sekarang bermain di kedua putingku. Ku pelintir, ku cubit sambil ku tarik putingku. Membuatnya terasa semakin menegang.
"Akhhh stsss akhhh aakkkuu ma mauuu keluarrrr" Racau ku. Semakin mempercepat genjotan ku. Hingga akhirnya...
CROTTT CROT CROTTT CROTTT
Sperma ku muncrat ke segala arah dengan derasnya. Mengenai berbagai tempat. Lantai, paha ku, perut ku.
"Akhh" Nafas ku Terngengah enggah. Menikmati permainan ku sendiri. Setelah semua itu akhirnya aku berberes. Membersihkan segala macam permainan ku. Dildo berbentuk kontol pun ku simpan dengan sebaik-baiknya. Berusaha untuk menghilangkan jejak agar tidak di ketahui istri ku.
Malam harinya tepat pukul 10, aku sedang duduk bersantai di ruang tau menikmati tontonan di tv. Sampai istri ku datang menghampiri ku.
"Abi? Hari ini katanya jadwal ronda kan?" Tanya istri.
"Astagfirullah, abi lupa untung aja umi ingetin" Jawab ku. Aku pun bergegas ke kamar mengganti baju.
Aku memakai baju kaos putih yang ketat agar bentuk tubuh ku terlihat sekali, terutama puting ku yang tercetak oleh kaos yang tipis ini. Lalu memakai celana kain hitam panjang yang ketat, hingga kontol ku sedikit tercetak. Untung saja kontol ku saat ini sedang lemas.
Udah hanya itu saja yang ku kenakan. Celana dalam? Tentu saja itu jarang ku pakai. Sengaja, entah kenapa aku sudah nyaman tanpa celana dalam. Kontol ku terasa lebih mudah bernafas.
... Aku pun keluar kamar menghampiri istriku lagi.
"Umi, abi berangkat dulu ya," kataku sambil mencium keningnya.
Istriku menatapku dari atas ke bawah, dengan pandangan yang sulit kubaca. "Abi, kamu yakin pakai baju itu?" tanyanya sambil sedikit memajukan wajah.
"Kenapa, Mi? Ini kan baju yang biasa abi pakai buat ronda," jawabku santai sambil mengusap pundaknya. Aku tahu betul apa yang menarik perhatiannya. Kaos putih tipis yang memperlihatkan lekuk tubuh, dan celana kain ketat yang membuat sensasi tanpa celana dalamku terasa lebih nyata.
"Tidak apa-apa, Bi. Hati-hati ya. Jangan pulang terlalu malam," katanya pelan, suaranya sedikit serak. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang terasa mengandung makna terselubung.
"Siap, komandan!" kataku sambil memberi hormat, lalu beranjak menuju pintu depan.
Begitu membuka pintu, udara malam yang dingin langsung menyambut kulitku, terasa kontras dengan kehangatan di dalam rumah. Aku mulai berjalan santai menuju pos ronda yang letaknya tidak jauh dari rumah. Setiap langkah yang kuambil, terasa sentuhan lembut kain celana di kulit sensitifku, tepat di area vital. Sensasi itu selalu ada, dan entah mengapa, aku menikmatinya.
Sesampainya di pos, sudah ada beberapa bapak-bapak lain yang sudah berkumpul. Pak RT, Pak bagas, dan ustadz firman, pak sadam terlihat sedang asyik mengobrol sambil ditemani kopi dan gorengan.
"Nah, ini dia ketua regu kita! Baru datang, Bi?" sapa Pak RT sambil tertawa.
"Iya, Pak RT. Hampir kelupaan tadi, untung diingatkan istri," jawabku sambil mengambil tempat duduk. Aku sengaja memilih tempat yang sedikit terbuka agar angin malam bisa menyentuhku.
Pembicaraan mengalir santai, dari masalah kompleks perumahan hingga lelucon dewasa ringan khas bapak-bapak. Aku ikut tertawa, namun dalam hati, aku menyadari ada beberapa pasang mata yang sesekali melirik ke arahku. Mungkin karena kaos putih tipisku, atau mungkin karena lekukan di bagian celana yang meski lemas, tetap menarik perhatian. Aku hanya diam, pura-pura tidak menyadarinya, membiarkan sensasi dingin dan ketegangan samar itu menemaniku ronda malam ini.
Pak bagas pun berseru, "ah ia aku tadi ada beli sesuatu"
"Beli apa?" Tanya pak RT
"Adalah pokoknya" Jawab pak bagas singkat sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Eh ardi, kamu gak kedinginan malam malam gini cuman pakai kaos?" Tanya ustadz firman.
"Ah ini, gpp santai" Seru ku.
"Ustadz firman mah kek gak tau aja, itu keknya sengaja. Biar terlihat lebih mempesona" Seru pak RT.
"Ah e enggak kok pak RT" Sanggah ku.
"Padahal ustadz ardi gak perlu pakai baju ketat gitu, ustadz ardi udah ganteng kok" Seru ustadz firman.
"Ah mana ada fir" Serunya.
"Ustadz ardi mah selalu merendah" Seru pak RT.
"Beneran loh di, wajah mu tuh udah ganteng. Hidung mancung, kulit putih, bibir kamu pink alami, tinggi juga, badan bagus" Seru ustadz firman sedikit menggoda.
Tawa kecil meledak di pos ronda. Aku hanya bisa tersenyum salah tingkah. Dipuji habis-habisan oleh Ustadz Firman di depan bapak-bapak yang lain membuat pipiku sedikit memanas.
"Udah, udah, kok jadi bahas fisik begini?" seruku berusaha mengalihkan pembicaraan, meski dalam hati aku menikmati pujian itu. Terutama dari Ustadz Firman yang biasanya sangat kaku dan serius.
Pak RT tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Ustadz Firman. "Tuh kan, Pak Ustadz aja muji. Memang Ardi ini aset kompleks, Ustaz. Cocok buat jadi bintang iklan deterjen!"
"Kalau bintang iklan deterjen, nanti bajunya nggak jadi tipis lagi, Pak RT," timpal Pak saddam sambil tersenyum misterius, matanya melirik ke arah kaos putihku.
Ustadz Firman menggeleng pelan, senyumnya masih tersisa. "Serius, Di. Apalagi kalau kamu pakai kaos begini, kelihatan sekali bentuk badanmu yang rajin nge-gym itu. Bahkan, lihat itu..." Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya kini fokus pada dadaku. "Putih sekali kulitmu di sana. Terlihat kontras sekali dengan kaos tipis ini."
Aku spontan menyilangkan tangan di depan dada, sedikit merasa canggung karena perhatiannya yang terlalu intens. Sensasi dingin di dadaku terasa semakin jelas, mungkin karena keringat tipis dari obrolan yang memanas ini.
"Sudah, Fir, jangan digoda terus Ardi-nya. Nanti dia pulang duluan," goda Pak saddam, yang sedari tadi hanya menyimak sambil menyeruput kopi.
"Enggak, aku nggak pulang. Cuma ya... jadi malu," jawabku sambil tersenyum tipis.
Ustadz Firman kembali duduk tegak, namun tatapannya masih sesekali mencuri pandang ke arahku. "Aku cuma memuji ciptaan Tuhan, Di. Jangan malu. Memang kamu pantas dipuji." Dia kemudian menarik napas panjang.
Aku menghela napas lega. Akhirnya obrolan tentang penampilanku selesai.
"Kalian bahas apa nih?" Seru suara yang datang menghampiri kami. Itu ternyata pak bagas yang terlihat membawa kantong plastik merah yang besar.
"Adalah pokoknya, bawa apa kau gas?" Tanya pak RT.
"Ah ini minuman" Jawab pak bagas sambil mengeluarkan minuman. Betapa terkejutnya aku saat melihat 5 botol bir berwarna hijau yang di bawah pak bagas di dalam kantong plastik tersebut.
"Astaghfirullah itu haram pak" Seru ku.
"Halah tad zina juga haram" Serunya sambil mencolek dagu ku. Jujur saja itu membuat ku kaget dan tidak bisa berkutik. Rasanya sangat malu. Aku memandang ke arah ustadz firman. Dia terlihat tidak menimpali apa yang di bawah oleh pak bagas. Seakan dia tidak ingin memperpanjang masalah.
Posisi duduk ku kini di hampit oleh dua orang. Entah bagaimana dua orang ini kini sudah berada di sebelah ku. Itu adalah pak RT dan pak bagas.
"Ustadz yakin gak mau?" Seru pak bagas yang menyodorkan gelas kecil ke arah ku. Aku menolak fengan keras. Menunjukkan wajah risih ku. Alhasil dia langsung meminumnya.
"Ahhh" Ucap pak bagas setelah meminum bir tersebut.
"Ia nih ustadz gak seru ah. Ustadz firman aja minum" Seru pak RT yang langsung menyodorkan segelas kecil bir untuk ustadz firman. Betapa terkejutnya aku saat ustadz firman mengambil gelas tersebut dan meneguk semuanya.
"Ustadz ardi mah gak suka bir, dia doyannya air mani" Seru pak bagas. Membuat ku terkejut.
"Ah yang benar ustadz ardi doyannya air mani?" Tanya pak sadam kaget.
"Kamu sih waktu itu gak hadir dam. Sperma kita di telan oleh ustadz. Mantaplah pokoknya" Jelas pak RT antusias. Jujur itu membuat ku malu, menjadi objek pembicaraan.
"Owalah, ustadz lonte toh. Firman tau juga?" Tanya saddam ke pada ustadz firman. Ustadz firman yang kini sedang menikmati meminum bir. Kini bersuara.
"Ah ia, beberapa kali pernah ngentotin dia, emang enak servisnya dia" Jawabnya. Membuat ku tidak percaya. Ustadz firman bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Padahal dia adalah orang yang paling aku percayai. Rasanya sakit banget hati ku.
"Wah cuman aku aja nih yang gak tau" Seru saddam jengkel. Membuat yang lain tertawa.
"Makanya ustadz ardi eh maksud ku lonte. Minum ini" Seru pak bagas yang menyodorkan bir tersebut ke arah ku. Awalnya aku tidak masih kekeh menolak. Hanya saja semua mata terasa mengintimidasi ku.
Akhirnya aku pun pasrah. Aku akhirnya mengambil gelas yang di sodorkan pak bagas pada ku. Dan langsung meneguknya.
"Hahahaha" Tawa mereka semua pecah saat aku meminum bir tersebut.
"Nah kalau nurut kan bagus ardi. Jadi terlihat lebih ganteng"
Gelas demi gelas aku meminum bir tersebut. Pujian-pujian selalu ku dengar dengan seksama. Makin lama badan ku mulai memanas, kepala ku rasanya sangat pusing. Sepertinya aku sudah mabuk.
"Ustadz kenapa? Udah mabuk kah?" Tanya pak sadam kepada ku.
"Eh enggak" Jawab ku berbohong.
"Ah masa, keringatan gitu gitu tad" Seru pak sadam kembali.
"Ustadz kalau keringatan gitu, di buka aja bajunya" Seru pak RT.
"Malu kayaknya tuh, coba kita yang duluan" Saran ustadz firman.
Akhirnya semua semua orang membuka kaos mereka membuat mereka setengah telanjang. Aku dapat melihat dada mereka. Ah puting mereka. Jujur itu pemandangan yang indah. Kontol ku ngancani di bali celana ketat yang sedang ku kenakan. Aku tau itu terlihat nampak jelas.
Setelah itu aku pun jadi ikut melakukan hal yang sama. Aku membuka kaos ku, membuat aku badan ku terlihat.
"Nah gitu dong, kenapa malu. Dientotin kita gak malu, cuman buka kaos aja malu" Seru pak bagas.
"Aku jadi penasaran service dia gimana" Seru pak sadam penasaran.
"Kalau penasaran suruh dia coba aja dam" Seru pak bagas.
"Lonte sini isep ini. Kesukaan mu kan?" Serunya sambil mengelus celananya. Yang terlihat gundukan celananya.
Aku tergiur nafsu ku sudah tidak terbendung. Di kepala ku, hanya ada terlintas kontol kontol. Lubang ku berdegup seakan ingin sekali di masukin.
Aku merangkak bak seekor anjing. Dengan kepala ku yang sudah terpengaruh alkohol. Aku merangkak di depan pak sadam. Tidak menunggu lama lagi. Aku membuka celananya. Kontolnya mencuat tegak agak sedikit bengkok ke kanan. Aku sudah tidak sabar lagi. Aku ingin kontol.
Au pun memasukan kontolnya ke dalam mulut ku.
"Akhhhj stsss hoooo bangsattt enak banget" Seru pak sadam keenakan saat aku mulai memasukan kontolnya dalam mulut ku.
Aku mengulum kontolnya dengan binal. Air liur ku melumuri kontolnya dengan sempurna.
"Akhhhh bangsat enak banget anjinggg" Serunya merasakan nikmat yang sepertinya baru dia rasakan. Bahkan saat dia mendorong kepala ku semakin dalam. Aku dengan kesadaran penuh. Menelan kontolnya penuh sampai ke batang-batangnya. Ahhh bau kontolnya dengan jembut jemubut yang lebat itu benar-benar nagih. Itu membuat ku semakin puas.
PLAK
Sebuah tamparan keras tepat berasa di pipi ku. Aku mendongak keatas melihat apa yang terjadi.
Pk sadam menjambak rambut ku menarik kepala ku ke atas, membuat kontolnya terlepas dari mulut ku.
"Aku bisa-bisa keluar, buka celana mu. Aku mau lubang pantat mu.
Jujur itu lumayan mengejutkan, tapi entah kenapa aku semakin bernafsu.
Aku melepaskan celana ku, di depan semua orang. Sedikit berlangganan lenggok memamerkan pantat ku yang montok di depan mereka semua. Sejak aku ketagihan ngentot. Hal yang paling sering aku jaga adalah bagian pantat ku. Berusaha agar tidak ada bulu-bulu satu pun yang menempel pada ku.
Plak plak
Pak bagas menampar pantat ku dengan keras. Aku dapat melihat sekilas memar di pantat ku membentuk telapak tangannya. Aku semakin suka.
Pak sadam yang sedang duduk bersandar dengan kaki terlentang. Kini meraih pinggul ku. Aku berbalik dan perlahan mulai memasukan kontol pak sadam ke dalam lubang pantat ku dengan cara mendudukinya.
"Akhhhh stssss enak" Desah ku saat perlahan-lahan kontolnya masuk semakin dalam. Aku dengan binal menaik turun pinggul ku.
Puting ku di mainkan sama paka sadam di cubit dan di pelintir. Hingga aku dapat merasakan puting kau yang semakin mengeras.
"Akhhh sttsss enakk" Desah ku keenakan.
"Jirrr lebih enak dari pada istri ku" Ramah pak sadam keenakan.
Au melirik sekeliling, ternyata sepertinya bukan hanya aku saja yang sudah bernafsu disini.
Au melihat pak RT, pak bagas, dan ustadz firman. Kini sudah bertelanjang bulat. Mereka duduk memperhatikan kami. Dengan kontol yang di kocok.
Pemandangan yang indah. Itu membuat ku semakin bernafsu aku mempercepat goyangan ku.
Pak sadam kini mendorong ku jatuh. Aku kaget tapi masih sempat menahan. Kini posisi ku menjadi dogi. Dengan pak sadam di belakang ku. Dia mulai menggenjot ku dengan bringas.
"Akhhh bangsat rasain ini lonte" Racau pak sadam.
"Akhh stsss akhhhh terus pak ahhhhh" Desah ku tak karuan.
Mata kembali fokus saat aku melihat sebuah kontol yang sedang berdiri kokoh. Ternyata itu adalah kontol pak RT yang sudah ngaceng dengan precum yang meleleh banyak. Aku pun tau apa yang di ingin kan beliau. Langsung saja ku kulum.
"Ahhhh anjinggg enak banget" Desah pak RT.
Sungguh ini sangat nikmat, udara dingin di pos ronda menjadi panas dengan alkohol dan aksi kita.
Kita sudah tidak perduli, jika ada yang akan melihat apa yang kami lakukan saat ini. Untung saja saat ini hujan turun. Membuat suasana malam menjadi lebih sepi. Jarang orang berlalu lalang saat hujan turun. Di tambah posisi pos yang berada agak pojok dekat dengan kebun kebun warga. Membuat ini menjadi lebih sepi lagi.
"Hmmm hmmm akhhh" Desah ku tertahan karena kontol yang berada di dalam mulut ku. Depan belakang kena. Dan itu membuat ku kenikmatan.
Plak Plak Plak.
Bunyi tamparan oleh pak sadam benar-benar menambah gairah aksi kita.
"Akhhh aku gak tahan lagi, aku mau keluarrrr" Seru pak sadam.
CROOTT CROOTTT CROTTTTT
semburan sperma muncrat di dalam lubang ku. Ahh terasa sekali cairan itu di dalam ku.
"Terima ini diii" Seru pak RT.
Crott crottt crottt
Pak RT muncrat di mulut ku. Aku bergegas untuk menekan seluruh spermanya di dalam mulut ku. Amis asin gurih itu. Semakin sering di konsumsi terasa lebih nagih.
Rasanya masih belum puas. Aku ingin lebih- aku benar-benar ingin lebih.
Kini tatapan ku sekarang menatap mata pak bagas. Dengan rokok yang berada di sela sela jarinya. Dia tersenyum ke arah ku. Dengan kontol yang sudah ngaceng maksimal.
Ahhh dia tampan jika seperti itu. Aku berdiri mendekat ke arahnya. Kemudian duduk di pahanya sambil tersenyum mesum. Kemudian ku hisap bibirnya. Kini kami berdua berciuman nafas kami bergebu-gebu. Kita saling adu dalam lumatan lidah. Lidahnya benar-benar sangat lihat. Tapi aku tidak mau kalah, aku mau menang.
Tangan pak bagas kini meraih pantat ku. Di tepok tepok bongkahan pantat ku. Lalu "akhhh" Satu jarinya masuk ke dalam pantat ku. Kami masih berada pada posisi berciuman dengan pantat ku yang sedang di mainkan oleh jarinya.
"Bersihin ini" Pintahnya menyuruh ku untuk membersihkan jari yang abis ia gunakan untuk menusuk lubang pantat ku. Dengan senang hati aku mengulum jarinya dengan rait wajah binal ku.
"Anak pintar" Serunya sambil membelai rambut ku.
Kemudian dia mulai memposisikan kontolnya ke arah lubang ku dan secara perlahan dia mulai menusuk lubang ku dengan kontolnya.
"Ahhhh hmmm stssss" Desah ku.
"Enak?" Tanya pak bagas. Aku mengangguk tapi PLAK satu tamparan tepat di pipiku.
"Jawab!" Serunya
"Ahhhh iaaa enakkk, aku suka kontol pak bagas" Ucap ku semakin menjadi.
"Dia tertawa kesenangan"
Selanjutnya dia terus mengentot ku. Aku pun tidak mau kalah ku goyangkan pantat ku. Agar memuaskan kedua belah pihak.
"Aaaaa" Terima ku kaget saat ku rasa ada yang aneh dengan lubang pantat ku.
Saat ku tatap ternyata itu ustadz firman, dia tersenyum binal ke arahku. Dan ternyata hal aneh itu adalah kontolnya yang menerobos masuk ke dalam lubang pantat ku. Padahal saat ini aku masih di isi dengan kontol besar pak bagas.
"Argggg stssss hooooo ahhhhh" Desah ku semakin menjadi. Saat ustadz firman terus memaksa masuk kontolnya. Rasanya agak sesak saat dia kontol berusaha masuk ke dalam pantat ku.
"Sempit banget enak banget" Seru ustadz firman.
"Jirrr jadi sempittt" Seru pak bagas juga.
"Ahhhh stssss akhhhhh eeenakkkk" Seru ku.
Saat kedua kontol tersebut masuk. Mereka berdua kini mulai mengentot ku. Lubang ku yang terasa sesak benar-benar menjadi nikmat, rasanya luar biasa saat di isi dengan 2 kontol sekaligus.
"Akhhhh enak banget jirrr" Racau pak bagas.
Au benar-benar keenakan dengan kedua kontol yang masuk. Rasanya sangat puas, kontol kekar mereka masuk.
"Akuuu gak tahan aku keluarrr" Seru ku.
CROTTT CROT CROTTT
Sperma ku muncrat deras membasahi perut ku dan perut pak bagas. Bahkan saat telah muncrat pun kontol ku masih saja mengeras. Aku masih belum puas.
"Akhhhh aku keluar" Seru pak bagas.
"Aku juga" Ucap ustadz firman.
"Argghhhhhh" Desah mereka berdua.
CROTTT CROTTT CROTTT CROTTT
Mereka berdua muncrat bersamaan di dalam lubang pantat ku. Benar-benar terasa sangat hangat. Sperma mereka malah terasa mengalir keluar.
Huftt malam ini benar-benar sangat nikmat. Bahkan setelah itu kami berlima masih saja melakukannya. Alkohol dan sex benar-benar perpaduan yang pas. Tubuh kami sudah lengket dengan sperma, kringat dan ludah. Entah kenapa aku menjadi tempat mereka membuat semua air yang ada pada mereka.
Kami terus melakukannya tanpa peduli waktu. Entah sudah pukul berapa sekarang. Rasanya aku sudah sangat lelah. Tapi berbanding terbalik dengan pantat ku yang masih ingin diisi kontol.
entah sudah berapa lama. Kami melakukannya aku tertidur dalam posisi telanjang bulat dan bermandikan sperma. Sepertinya alkohol membuat ku tidak sadarkan diri.
Saat bangun, aku kaget. Mendapati banyak orang yang telah berkumpul di pos ronda. Melihat ku tertidur dalam keadaan telanjang bulat.
Aku panik, aku berusaha menutupi kontol ku. Mencari pakaian ku yang sudah hilang. Hanya ada bekas botol bir yang berserakan.
Aku malu...
Semua warga berkerumun melihat ku bertelanjang. Dari tua muda hingga ibu ibu bapak bapak. Aku ustadz ardi pun di kebiri. Dia di ceraikan oleh istrinya. Dan pergi meninggalkan desa dari hinaan penduduk.
Dalam semalam aku hancur, malu. Citra ku rusak. Aku ustadz yang dulu disegani sekarang di kanal sebagai lonte. Aku bersyukur, saat ini teknologi masih minum. Aku tidak dapat pungkiri jika aku viral di sosial media.
Akhirnya Aku pergi ke desa yang agak jauh. Di sana aku tidak lagi di kenal sebagai ustadz, tapi hanya ardi sang pemuas nafsu.
Ya kini dia sudah menjadi lonte gay, yang di bayar.
Hal itu dapat memuaskan lubang pantatnya yang ingin terus di isi oleh kontol.
<TAMAT>
Terimakasih karena udah bersabar untuk sampai ke chapter akhir dari cerita ini.
Terimakasih semuanya
Dukung mimin terus yah...
LINK SAWER
https://saweria.co/beesilebah11
^°^


Comments
Post a Comment